Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Maret 2014


Burung hantu merupakan jenis burung yang aktif pada malam hari (nokturnal). Kata “Hantu” muncul karena perilakunya yang nokturnal dengan suara yang aneh dan terkadang menyeramkan. Karena aktif pada malam hari tidak banyak orang dapat melihat langsung suatu jenis burung hantu pada malam ataupun siang hari di habitat alaminya. Meskipun warnanya tidak terlalu indah karena lebih banyak yang berwarna gelap namun sebagian besar jenis burung hantu memiliki morfologi yang unik dan lucu sehingga banyak juga yang menjadikannya sebagai hewan peliharaan.

            Kampus IPB Darmaga yang telah di deklarasikan sebagai “Kampus Biodiversitas” ternyata memiliki beberapa koleksi jenis burung hantu yaitu Kukuk Selaputo (Strix seloputo), Celepuk Reban (Otus lempiji) dan Serak Jawa (Tyto alba). Serak jawa adalah jenis burung hantu yang paling mudah terdeteksi keberadaannya karena warna tubuhnya yang paling berbeda dan perilakunya yang sangat aktif ketika berburu pada malam hari.

Serak jawa (Tyto alba) atau dalam bahasa Inggris Barn Owl merupakan burung pemangsa dari Ordo Stigiformes yang aktif di malam hari. Burung ini berukuran besar ± 34 cm dengan muka putih berbentuk hati dan lebar. Tubuh bagian atas kuning bertanda merata, tubuh bagian bawah putih dengan bintik-bintik hitam keseluruhan (MacKinnon et al. 1998).









Gambar 1 Ilustrasi morfologi Serak jawa (Tyto alba) (Sumber gambar: MacKinnon et al. 1998)










SERAK JAWA (Tyto alba), SANG PEMBURU MALAM BERJUBAH PUTIH

Read More

Rabu, 12 Februari 2014

Kampus IPB Darmaga merupakan kawasan yang memiliki beragam tipe habitat yang dapat mendukung kehidupan berbagai jenis satwaliar. Salah satu satwaliar yang memanfaatkan habitat di kawasan kampus IPB Darmaga adalah burung. Jenis burung yang memanfaatkan habitat kampus ternyata bukan hanya burung lokal, namun juga ada beberapa jenis burung migran yang tercatat memanfaatkan habitat di kampus (HIMAKOVA 2012). Burung migran adalah jenis-jenis burung yang melakukan migrasi (perpindahan) dari daerah lain baik lokal maupun global untuk beberapa waktu dengan tujuan tertentu.
Salah satu jenis migran yang tercatat di kawasan kampus adalah Bubut-pacar jambul (Clamator coromandus). Jenis burung pemakan serangga dari suku Cuculidae ini berbiak di India, Cina selatan dan Asia tenggara, bermigrasi ke beberapa wilayah di Indonesia (Sumatera, Kalmantan, Jawa, Sulawesi) pada musim dingin sekitar bulan Oktober-April (MacKinnon et al. 1998: Coates et al. 2000).
Pada monitoring burung kampus akhir Januari 2014, Kelompok Pemerhati Burung (KPB) ‘Perenjak’ HIMAKOVA IPB mencatat keberadaan jenis ini di sekitar daerah kebun percobaan Cikabayan. Penemuan ini bukan pertama kalinya karena beberapa catatan dari data series KPB Perenjak menunjukkan jenis ini pernah ditemukan di kampus yaitu sekitar daerah kebun belakang asrama putra, sekitar perumahan dosen dan kebun di pintu 2 IPB. Menurut MacKinnon et al. (1998) jenis burung ini pemalu dan menghuni vegetasi rendah di beberapa habitat seperti hutan semak, hutan mangrove, lahan pertanian dan pekarangan. Meskipun habitat di kampus IPB Darmaga sangat mendukung keberadaan jenis ini, namun catatan perjumpaan dengan jenis burung ini sangat sedikit yang mungkin disebabkan karena perilakunya yang pemalu dan sensitif dengan kehadiran manusia.
Saat ditemukan di Cikabayan, burung yang dalam bahasa Inggris disebut Chestnut-winged Cuckoo ini sedang terbang dan kemudian bertengger, karena mengetahui keberadaan pengamat burung ini hanya bertengger ± 3 detik kemudian terbang lagi dan masuk ke semak belukar. Beruntung pengamat berhasil mengambil gambar dari jenis burung pemalu ini. Burung ini lebih mudah dideteksi ketika sedang terbang karena ukurannya yang besar ± sekitar 45 cm (MacKinnon et al. 1998). Meskipun habitat yang dihuni dan perilakunya sama dengan kerabatnya yaitu Bubut alang-alang yang terdapat juga di kawasan kampus, namun ketika sedang terbang burung ini akan lebih mudah dikenali karena terdapat warna putih di bagian bawah perutnya yang sangat mencolok.


Gambar Bubut-pacar jambul (Clamator coromandus) yang ditemukan disekitar daerah Cikabayan kampus IPB Darmaga (Foto by Reza Aulia Ahmadi, 2014)

           Keberadaan jenis-jenis burung migran salah satunya seperti Bubut-pacar jambul di kawasan kampus IPB Darmaga menunjukkan bahwa kawasan kampus memiliki peran penting untuk konservasi burung, sehingga habitat yang beragam di kawasan kampus harus dijaga agar dapat tetap mendukung keberadaan jenis-jenis burung tersebut. Kampus IPB yang telah dicanangkan sebagai Biodiversity Campus sudah seharusnya dapat menjaga dan memberi manfaat nyata untuk keanekaragaman hayati didalamnnya. 

Reza Aulia Ahmadi
Anggota Kelompok Pemerhati Burung "Perenjak" HIMAKOVA IPB

Bubut-Pacar Jambul (Clamator coromandus), pengembara musim dingin yang pemalu

Read More

Jumat, 29 November 2013






“Ada 62 bibit pohon Meranti, 52 bibit pohon Agathis, dan 14 bibit pohon Pinus yang ditanam sesuai dengan nama jalannya....”

Bogor (28/11)—Mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa tanggal 28 November adalah Hari Menanam Pohon. Sesuai dengan Keputusan Presiden RI No. 24 Tahun 2008, yaitu tentang penetapannya tanggal 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI). Untuk memperingati momen tersebut, meningkatkan kecintaan menanam, serta mewadahi mahasiswa IPB yang ingin memperingati momen tersebut, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (Himakova) Fakultas Kehutanan IPB, mengadakan acara “Pohon Untuk IPB”.

Acara tersebut terbuka untuk seluruh civitas akademika IPB. Dimulai pada pukul 16.00-17.45 WIB, dengan meeting point di Masjid Al-Hurriyah. Penanaman bibit pohon dilakukan sepanjang Jalan Agathis, Jalan Pinus, dan Jalan Meranti. Untuk menuju spot-spot penanaman, khususnya Jl. Agathis yang berlokasi paling jauh dari meeting point peserta diantar dengan menaiki mobil wisata IPB. Pohon yang ditanam disesuaikan dengan nama jalannya. Kegiatan ini termasuk dalam program kerja Biro Sosial dan Lingkungan Himakova, yang bernama Green Street.



“Kegiatan ini bertujuan untuk menanam kembali pohon-pohon sesuai dengan nama jalan yang ada di Kampus IPB Dramaga.” kata Rahmi Nur Khairiah (21), salah satu anggota Himakova, disela-sela penanaman yang ikut melakukan penanaman pohon di Jalan Meranti.

“Ada 62 bibit pohon Meranti, 52 bibit pohon Agathis, dan 14 bibit pohon Pinus yang ditanam sesuai dengan nama jalannya. Kegiatan ini dari IPB untuk IPB.” Kata Bangkit Maulana, Ketua Biro Sosial dan Lingkungan Himakova.


Selain dari anggota Himakova dan para penghuni asrama TPB IPB, kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa IPB, baik yang mendaftar terlebih dahulu maupun yang mengikuti kegiatan tersebut saat tidak sengaja melewati jalan-jalan yang dilakukan penanaman. Bahkan, ada beberapa mahasiswa yang saat itu melakukan lari sore, sengaja berhenti untuk mengikuti penanaman. Adapula club skate board yang biasa melakukan latihan di Jl. Meranti, juga menyempatkan untuk mengikuti penanaman. Bahkan yang unik, mereka menggunakan papan skate board mereka seperti menggunakan sekop.




“Acaranya keren banget, tadinya mau jogging keliling kampus, tiba-tiba diajakin anak-anak Himakova buat nanam pohon di jalan Agathis. Sambil olahraga, sambil idadah.” Kata Evi (19), calon anggota Azimuth, Mapala Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian IPB, yang menyempatkan ikut penanaman pohon saat dia dan beberapa teman-temannya melakukan lari sore untuk latihan fisik.

Setelah selesai melakukan penanaman, peserta kembali lagi ke Masjid Alhurriyah untuk penutupan acara dan penutupan. Selain mendapatkan pengalaman baru, peserta juga mendapatkakn teh botol dingin dan sticker gratis.


Banyak Pohon Banyak Pahala

Read More

Bogor (29/11)-- Pernah dengar daun gatal Papua? Mungkin sebagian besar dari kita masih asing dengan spesies tersebut. Saat mendengar kata “daun gatal” mungkin sepintas yang terpikirkan adalah daun Pulus (Laportea stimulans). Namun, kali ini, kita akan mengulas tentang daun gatal  yang ada di P. Seram dan umum dimanfaatkan sebagai tanaman penghilang pegal pada badan.

  

Meskipun daun gatal Papua lebih terkenal, namun ternyata daun gatal tidak hanya ditemukan di Papua, melainkan juga dapat ditemukan di daerah Maluku. Daun gatal yang memiliki nama ilmiah Laportea decumana tumbuh subur di P. Seram tepatnya di Taman Nasional Manusela.


Pada kegiatan Studi Konservasi Lingkungan (Surili) 2013 yang dilakukan oleh anggota Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (Himakova) Fakultas Kehutanan IPB, mahasiswa menemukannya tumbuh subur menyebar di hutan taman nasional dataran rendah hingga pegunungan bawah. Daun gatal berasal dari famili Urticaceae, famili ini umumnya memang memiliki kandungan kimiawi seperti asam formiat dan authrapuinones. 


Cara penggunaannya sangatlah mudah, tinggal mengambil satu helai daun gatal, kemudian digosokan ke anggota tubuh yang pegal contohnya saja pada permukaan kulit tangan, kaki dan punggung. Reaksi awalnya, kulit akan terasa perih atau sakit, tidak lama kemudian kulit akan bentol-bentol dan terasa gatal di sekujur permukaan yang diusap daun gatal kemudian reaksi selanjutnya akan terasa hangat dan rasa gatal pun hilang 
berserta bentol-bentonya juga akan segera hilang.


Beberapa peserta Surili yang letih seusai keluar masuk hutan mencoba khasiat daun ini dan mereka pun merasakan sensasi yang berbeda setelah menggunakan daun ini. 
“Awalnya sih takut tapi penasaran banget masa sudah sampai Maluku tapi tidak merasakan sensasi daun gatal, awalnya sakit, angget lalu badan terasa enteng kembali” ujar Claudia Zavier Bordeux (20), salah satu peserta Ekspedisi Surili 2013 yang mencoba daun gatal di tangan dan kakinya. 

"Asam formiat atau yang mempunyai rumus kimia HCOOH terkandung di dalam duri-duri halus di seluruh permukaan daun. Jika asam formiat mengenai kulit, maka  pori-pori kulit akan terbuka, inilah yang menyebabkan rasa gatal pada kulit saat terkena daun gatal. Saat pori-pori terbuka inilah, asam laktat menguap dan membuat otot terasa segar kembali." Kata Muhammad Adlan Ali (21), ketua Kelompok Pemerhati Flora Himakova.

Oleh: Oktania Kusuma Handayani






Daun Ajaib Penghilang Pegal

Read More



Bogor (28/11)-- Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) Fakultas Kehutanan IPB kembali mencatat spesies baru dari burung (aves) di kawasan Kampus IPB Dramaga. Setelah pada bulan Agustus 2013 lalu HIMAKOVA pertama kali mencatat keberadaan  Punai Pengantin, kali ini Kelompok Pemerhati Burung (KPB) “Perenjak” HIMAKOVA menemukan burung dari suku Cuculidae berjenis Kadalan Birah (Phaenicophaeus curvirostris) atau yang dalam bahasa Inggris disebut Chesnut-breasted Malhoka.

“Kadalan Birah, selain baru tercatat keberadaannya di Kampus IPB Dramaga, juga baru tercatat keberadaannya di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Sukabumi, saat anggota KPB Himakova, melakukan pengamatan burung disana pada tanggal 7 September 2013. Saat itu, Reza Aulia Ahmadi yang menemukan spesies ini dan sempat membuat artikelnya.” kata Arizka Mufida ketua Biro Infokom Himakova
Himakova yang aktif melakukan monitoring burung di Kampus IPB Dramaga, telah mencatat sekitar 90 spesies burung yang ada di Kampus IPB Dramaga. Kadalan Birah ini ditemukan oleh anggota KPB saat melakukan pengamatan di sekitar Kebun Sawit Cikabayan, Kampus IPB Dramaga usai melakukan praktikum Inventarisasi Mamalia pada hari senin tanggal 25 november 2013.

Kadalan Birah termasuk jenis burung yang sulit ditemukan di kampus IPB Dramaga. Sebenarnya pada monitoring KPB sebelumnya, sudah pernah ditemukan spesies ini, namun karena masih sekali ditemukan dan tidak ada dokumentasi, sehingga buktinya masih belum kuat.  Adanya dokumentasi dari Ichy, membantu proses identifikasi dan menjadi bukti otentik adanya spesies ini.” kata Huhammad Fahmi Permana, Ketua KPB Himakova.

Pada saat ditemukan, burung tersebut sedang bertengger dan meloncat-loncat di ranting pohon Sengon dan ditemukan berpasangan.” Kata Richsy M Fauzi, atau yang sering disapa Ichy, anggota KPB Himakova yang menemukan spesies tersebut.
Hal tersebut sesuai dengan literatur menurut MacKinnon et.al (1998), bahwa kebiasaan dari burung Kadalan Birah adalah bertengger pada tajuk pohon dalam waktu yang cukup lama bersama pasangannya atau dalam kelompok keluarga kecil.


“Awalanya saya mengira, burung ini adalah Burung Bubut, namun setelah dilakukan pengambilan foto yang dilanjutkan dengan identifikasi jenis, diketahui bahwa burung tersebut merupakan Kadalan Birah.” Ichy menerangkan.

Kampus IPB Dramaga menjadi habitat beragam jenis burung karena kondisi kampus yang mendukung bagi habitat beragam jenis burung, salah satunya daerah Cikabayan. Kondisi Cikabayan yang mempunyai berbagai vegetasi, diantaranya tegakan karet, sengon, kelapa sawit, padang alang-alang dan vegetasi hutan alam lainnya menjadi faktor utama keberagaman jenis burung di Kampus IPB Dramaga.

Kadalan birah merupakan burung dari suku Cuculidae memiliki ciri-ciri morfologi yang cukup mencolok  dengan warna yang dominan hijau dan merah karat pada seluruh tubuhnya dengan ukuran tubuh 49 cm. Burung ini umum dijumpai di dataran rendah dengan kebiasaan mengunjungi semak belukar, padang alang-alang dan bertengger ditajuk-tajuk pohon kecil bersama pasangannya ataupun dengan keluarga kecil.


Oleh:
Richsy M fauzi
Anggota Kelompok Pemerhati Burung “Perenjak” Himakova

25 November, Kadalan Birah Pertama Kali Tercatat di Kampus IPB Dramaga

Read More

Senin, 11 November 2013



Wisata Air Panas Ciparay adalah salah satu wisata yang berlokasi di kaki Gunung Salak Endah, Taman nasional Gunung Halimun Salak Kabupaten Bogor. Kawasan wisata ini memiliki kolam pemandian air panas  dan pancuran yang dikelilingi keindahan alam pegunungan Halimun-Salak. Di tempat ini, para wisatawan juga dapat menikmati mandi dengan air panas alami di sungai. Selain pemandian air panas, adapun fasilitas lain yang terdapat di kawasan wisata ini ialah warung yang menyediakan makanan dan jajanan, tempat penginapan berupa vila, dan saung-saung untuk bersantai bersama teman dan keluarga.


Pengunjung yang datang mengunjungi kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak dikenakan tiket masuk seharga Rp 2.500 per-pengunjung , dan menuju tempat Wisata Air Panas Ciparay ini pengunjung membayar tiket kembali seharga Rp 5000. Harga tiket ini berlaku dari Senin sampai Minggu. Namun, sayangnya pihak pengelola tidak mnyertakan bukti tanda masuk kawasan (tiket) dengan alasan baru-baru ini, ada pergantian petugas. Sehingga, administrasi pengelolaan kawasan dirasa kurang baik.

Sebelum memasuki kawasan wisata Ciparay, kita harus menapaki sekitar 200 anak tangga. karena kawasan ini berada di sebuah lembah di mana di dasar lembah itu mengalir Sungai Cikuluwung memiliki air yang masih jernih, dingin dan sejuk. Dinding-dinding lembah itu adalah kaki Gunung Salak. Kondisi jalan setapak selebar dua meter itu cukup bagus, namun ada beberapa tapak yang berlumut. Oleh karenanya pengunjung tetap harus berhati-hati karena tebingnya cukup curam dan berbelok-belok, di sisi kiri terdapat jurang. Apalagi pagar besi untuk berpegangan tidak tepat berada di sisi jalan setapak tersebut. Dengan demikian, agak sulit untuk diandalkan oleh para pengunjung untuk jadi alat berpegangan saat menapaki jalan. Rata-rata pengunjung yang datang berasal dari kawasan jabodetabek. Jika hari-hari biasa bisa mencapai 50 orang, sementara weekend atau hari libur biasanya sampai mencapai 250 pengunjung. “Pengunjung yang datang kesini bervariasi, mulai dari remaja SMP-SMA sampai rombongan keluarga” Ujar Riki selaku petugas yang sedang bertugas saat itu.

Di tempat ini terdapat beberapa bak berendam di beberapa kamar. Selain itu, air panas juga dialirkan ke delapan pancuran di pinggir Sungai Cikuluwung. Satu pancuran air panas malah berada di ”dinding”  tepi sungai. Para pengunjung setelah bermain air sepuasnya di sungai tersebut bisa segera membilas tubuhnya di bawah pancuran air hangat ataupun sebaliknya. Konon air yang mengalir di sungai memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit, seperti panu, gatal-gatal dan rematik. Oleh karena itu tak jarang banyak pengunjung yang datang untuk mengobati berbagai penyakit yang diderita. Warung-warung yang terdapat di sekitar kawasan juga bisa menjadi pilihan bagi pengunjung untuk bersantai sejenak menikmati pemandangan alam Ciparay.

Pengunjung yang datang ke kawasan ini juga seringkali diberikan peringatan agar berhati-hati saat berada dikawasan, terutama di sungai. Sebab, dikhatirkan terjadi hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan pengunjung seperti naiknya air sungai saat hujan lebat, badai dll. Pihak pengelola juga menyediakan 3 orang petugas di sekitar kawasan untuk berjaga-jaga apabila sesuatu hal buruk menimpa pengunjung.
Sampai saat ini belum ada rencana penambahan fasilitas di kawasan ini, pihak pengelola berusaha mengoptimlakan potensi yang telah ada. Harapannya, mudah-mudahan adanya kepedulian pemerintah daerah maupun pusat dalam perbaikan dan penambahan sarana dan prasarana mengingat kawasan ini memiliki potensi yang besar untuk dijadikan kawasan wisata.

Oleh: Rizka Sya’bana Azmi

Air Terjun Ciparay

Read More


Ambon (31/8)-- Rumah sokat adalah salah satu desa di negeri Sawai, Pulau Seram. Desa ini berada di pinggiran pantai sampai perbukitan atas. Desa ini  dikenal dengan sebutan Rumah Sokat lama. Rumah Sokat Lama berbatasan dengan Hatulua (Sawai) dan Batu Gurita (Saleman). Pada awalnya di desa ini terdapat sekitar 30 Kepala Keluarga, dengan mata  pencaharian sebagian besar penduduknya menambak ikan. Namun seiring berjalannya waktu satu persatu penduduk desa ini berpindah ke desa lain, sampai pada akhirnya pada tanggal 14 Agustus 1975 seluruh penduduk desa resmi berpindah ke daerah Wahai yang kini dikenal dengan sebutan  Rumah Sokat Baru.


Sebagian besar penduduk di desa ini tidak beragama (atheis). Namun setelah memasuki tahun 50-an, masuk pengaruh Islam dan Nasrani melalui penyebaran bangsa Persia. Selain Persia, wilayah ini juga dipengaruhi oleh bangsa Belanda. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan jalan setapak yang disusun dari bebatuan sepanjang pesisir pantai menuju perbukitan atas. Oleh karena itu, desa ini sering dijuluki kota Patu (batu). Sebab, hanya di desa  ini yang dibangun jalan setapak dari batu menuju puncak perbukitan.
Penduduk desa ini juga memiliki 5 marga, diantaranya Katayane, Makasale, Tolau, Malehute, dan Manikuti. Marga ini menunjukkan tingkatan kedudukan di desa tersebut. Marga Katayane adalah marga tertinggi di desa ini. Biasanya keluarga yang memiliki marga tertinggi tak hanya mengandalkan laut sebagai sumber mata pencaharianya, tapi juga dengan bercocok tanam.

"Ayah saya menanam cengkih dan durian di halaman rumah sehingga ketika panen hasilnya melimpah" ujar Zoel Katayane, yang akrab disapa Om Zoel selaku penduduk asli rumahsokat lama yang bermarga Katayane dan kini menjabat sebagai Kepala Resort Masihulan kawasan Taman Nasional Manusela bagian Utara.
Jenis pohon yang dapat tumbuh baik di desa ini ialah jenis tanaman umur panjang contohnya seperti durian, cengkih, lada, dan palawija dll. Sampai saat ini, sepanjang jalan menuju perbukitan masih banyak dijumpai pohon durian, pala, cengkih, dan lada.


Di desa ini juga terdapat sebuah gua yang dipinggirnya terdapat tulang tengkorak manusia dan tulang-tulang lainnya. Kondisinya terbilang masih awet meskipun sudah beratus-ratus tahun yang lalu. Cerita tengkorak ini berawal dari salah seorang pemuda desa rumah sokat yang ingin menunjukkan kebolehannya dalam berperang. Sebagai bukti perang, ia harus membawa tengkorak lawan yang telah dikalahkannya untuk diperlihatkan ke penduduk di desanya agar mereka percaya bahwa ia benar-benar melakukan perang dan memenangkan perang tersebut. Akhirnya ia berangkat perang, dan terbukti mampu mengalahkan lawan. Agar penduduk desa percaya, ia pun memenuhi janji untuk membawa pulang tengkorak lawan. Untuk merayakan kemenangannya, ia berpesta selama 3 malam. Sejak saat itu, penduduk desa pun mengakui kehebatan pemuda ini dan sampai saat ini tengkorak lawannya tersebut masih terdapat di gua tersebut.

Kebiasaan yang dipercaya oleh penduduk desa ini adalah wanita yang sedang datang bulan (menstruasi)  dan melahirkan, maka ia tidak boleh tinggal dirumahnya, tetapi harus dipisahkan dirumah lain yang berada persis didekat pantai. Hal ini karena mereka dianggap sedang dalam keadaan tidak bersih. Oleh karena itu tidak boleh disatukan dengan penduduk lain. Selain itu, terdapat air payau yang dipercaya sebagai obat influenza. Tempatnya berada di pinggir pantai dan di sekelilingnya banyak batu-batuan berukuran besar dan licin. Penduduk desa sering meminum air ini karena dipercaya dapat meningkatkan stamina tubuh. Adapun tempat yang dipercaya sebagai tempat pamali (tidak boleh ditempati), berada dekat perbatasan Saleman, yaitu Batu gurita. Tempat ini tidak boleh ditempati dan dilewati karena mereka percaya bahwa tempat tersebut ada penunggunya. Bahkan  jika sedang berburu satwa seperti kuskus, kemudian satwa tersebut melewati tempat tersebut, maka dilarang untuk meneruskan perburuan. Karena dipercaya akan mendapatkan musibah.

Untuk menempuh lokasi tersebut, dapat menggunakan long boat dari Sawai. Perjalanan ditempuh sekitar 15 menit. Kondisi sekitar kawasan yang masih alami, tidak ada bangunan, namun hanya terdapat sisa-sisa reruntuhan bangunan yang berserakan menambah eksotika kawasan. Dalam perjalanan menuju puncak perbukitan, terdapat pula tempat pengamatan burung (birdwatching). Namun sangat disayangkan kondisinya sudah tidak layak. Ada baiknya jika ditambahkan fasilitas berupa platform. Sehingga pengunjung yang datang dapat melakukan pengamatan burung dan menikmati pemandangan Sawai dari atas pegunungan. Adapun burung yang dapat kita jumpai diantaranya Burung Rangkong, Cikukua dan kelompok kelelawar yang rutin muncul di depan mess Rumah Sokat Lama pada pkl. 19.00 WIT.

Di sekitar kawasan ini juga dapat ditemukan Pohon Kasai yang memiliki aroma wangi yang khas. Biasanya penduduk memanfaatkan batang pohon ini sebagai pewangi makanan. Selain itu juga terdapat pohon, yang biasa disebut pohon Gay, sebagai pakan kupu-kupu.

Selain potensi Gua dan Birdwatching, Rumah Sokat Lama memiliki potensi bahari yang tak kalah menarik daripada Raja Ampat. Air yang sangat jernih, terumbu karang beraneka ragam dan berbagai biota laut yang siap menyambut pada penyelam menjadi magnet bagi wisatawan untuk menjelajahi surge bawah airnya.


Meski tak lagi menempati Rumah Sokat Lama, rasa memiliki terhadap desa ini masih tumbuh dihati penduduk desa Rumah Sokat. Hal ini dibuktikan oleh aksi protes penduduk yang ditunjukkan melalui surat kepada Kepala Balai Taman Nasional Manusela pada tahun 2001 tentang penebangan pohon sembarangan dan aksi perburuan liar. Mereka tidak terima jika ada pihak yang memanfaatkan dan mengambil hasil hutan tanpa izin. Dalam suratnya, tertulis bahwa mereka meminta agar kawasan ini diperhatikan dan selalu dilakukan pengawasan (controlling) yang berkelanjutan. Menanggapi aduan tersebut, pihak Balai Taman Nasional membangun sebuah rumah tepat di tepian pantai yang berfungsi sebagai tempat istirahat atau menginap untuk petugas Balai yang sedang patroli di sekitar rumah sokat lama. Desa ini juga masih rutin dikunjungi oleh penduduk desa Rumah Sokat Lama pada saat musim panen duren dan cengkih. Biasanya mereka sengaja mendirikan tenda di sekitar pantai untuk menunggu dan mengambil hasil panen.

Oleh: Rizka Sya'bana Azmi



RUMAH SOKAT LAMA, serpihan desa di Negeri Sawai-Maluku Utara

Read More

Kamis, 19 September 2013


Sukabumi (19/9)-- Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) merupakan ekosistem hutan tanaman yang dibentuk oleh Fakultas Kehutanan IPB. Hutan seluas 359 ha tersebut memiliki vegetasi homogen dan hanya terdapat beberapa tanaman inti seperti damar (Agathis dammara), tusam (Pinus merkusii) dan puspa (Schima wallichii). 
Dibalik vegetasinya yang homogen ternyata HPGW memiliki kekayaan jenis burung yang cukup tinggi. Data dari pengelola menunjukkan sedikitnya 80 jenis burung terdapat di sana.

Pada tanggal 7 September 2013 yang lalu beberapa anggota Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan Dan Ekowisata (HIMAKOVA) Fakultas Kehutanan IPB melakukan kegiatan birdwatching di sekitar kawasan HPGW. Dalam kegiatan tersebut mereka bertemu seekor burung kadalan birah. Setelah konfirmasi dengan beberapa pihak yang sering melakukan kegiatan inventarisasi burung di HPGW ternyata spesies ini belum pernah tercatat sebelumnnya. Kadalan birah yang dalam bahasa inggris disebut Chestnut-breasted Malkoha (Phaenicophaeus curvirostris),  merupakan anggota dari famili Cuculidae. 

"Hal ini merupakan suatu penemuan yang bagus, dilihat dari hal tersebut kemungkinan masih ada beberapa spesies baru yang belum tercatat. Sehingga diperlukan inventarisasi lebih lanjut." Adlan Yusran, Ketua Himakova sejkaligus anggota Kelompok Pemerhati Burung (KPB) Himakova, menjelaskan.

              
Kadalan birah (Phaenicophaeus curvirostris), jenis yang menjadi catatan baru untuk HPGW
Foto: Reza Aulia Ahmadi


"Pada saat ditemukan burung ini sedang merayap di antara batang pohon Puspa  (Schima wallichii) dan terbang ke pohon yang lainnya." Ujar Reza Aulia Ahmadi, anggota KPB yang menemukan spesies ini saat pengamatan.

Jenis ini merupakan pemakan serangga yang suka merayap-rayap diantara semak belukar yang rimbun (MacKinnon et.al 1998).  Ukuran burung ini cukup besar, menurut MacKinnon et.al 1998 ukuran tubuh kadalan birah sekitar 49 cm dengan ekor yang sangat panjang. Ukurannyanya yang besar menjadikannya mudah dikenali terlebih ketika sedang terbang. 


Oleh:
Reza Aulia Ahmadi

KADALAN BIRAH (Phaenicophaeus curvirostris), CATATAN BARU UNTUK HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT (HPGW)

Read More

Rabu, 18 September 2013





    Indonesia memiliki tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu tertinggi kedua di dunia. Hanya berbeda sedikit dari negara Brazil yang mempunyai 3.000 jenis, di Indonesia terdapat 2.500 jenis kupu-kupu. Namun, tingkat endemisitas kupu-kupu Indonesia sangat tinggi, yakni 50% dari jenis yang ada. Artinya keunikan kupu-kupu di Indonesia melebihi negara lain di dunia.
           
  Diantara keragaman jenis kupu-kupu di Indonesia, terdapat 20 jenis yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Salah satu jenis yang dilindungi tersebut adalah Ornithoptera goliath [Oberthur pada 1888], kupu-kupu dari Indonesia bagian timur (Kepulauan Seram, Manokwari dan Papua Nugini). Secara umum, jenis ini dikenal dengan Goliath birdwing, disebut sayap burung karena ukuran sayapnya yang besar dan pada saat berisitirahat bentuk sayapnya menyerupai sayap seekor burung yang sedang tidak terbang.
            Jenis Ornithoptera goliath sering hinggap di tumbuhan berbunga, seperti soka (Ixora coccine) dan pagoda (Clerodendrum japonicum), untuk menghisap nektar bunganya. Kupu-kupu yang biasa terbang tinggi ini memiliki enam subspesies, yaitu:
·         Ornithoptera goliath atlas   [Rothschild, 1908]
·         Ornithoptera goliath procus   [Rothschild, 1914]
·         Ornithoptera goliath samson   [Niepelt, 1913]
·         Ornithoptera goliath sorongensis   [Morita & Sugiyama, 1998]
·         Ornithoptera goliath supremus   [Röber, 1896]
·         Ornithoptera goliath ukihidei   [Hanafusa, 1994]
Kupu-kupu yang memiliki rentangan sayap 18 hingga 23 cm ini merupakan jenis yang memiliki ukuran terbesar kedua di dunia setelah Queen Alexandra’s Birdwing (Ornithoptera alexandrae) yang hidup di Papua Nugini. Seperti jenis kupu-kupu pada umumnya yang sexual dimorphism, Ornithoptera goliath jantan memiliki warna sayap yang lebih cerah dibandingkan dengan betina. Dengan dominasi warna hijau kekuningan dan hitam, individu jantan mencoba menarik perhatian betina untuk menjadi pasangannya. Sedangkan, pada individu betina warna yang mendominasi hanya putih dan coklat dengan corak menyerupai batik.
            Selain kombinasi warna sayap, ukuran tubuh individu jantan dan betinapun berbeda. Kupu-kupu betina biasanya memiliki ukuran yang lebih besar dikarenakan harus menyimpan banyak cadangan energi. Energi tersebut digunakan untuk terbang jauh dan meletakkan telur di tanaman inang. Masing-masing jenis kupu-kupu memiliki tanaman inang yang berbeda dengan jenis lainnya. Ornithoptera goliath sering dijumpai di tumbuhan sirih hutan (Aristolochia spp.), yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai pakan larvanya setelah menetas dari telur.

Oleh: Adinda Pryanka


Ornithoptera goliath, sayap burung nan cantik dari Indonesia Timur

Read More

Copyright © HIMAKOVA | Designed With By Blogger Templates
Scroll To Top