Sabtu, 17 Mei 2014

NEW RECORD : Terungkapnya keberadaan Beluk Jampuk (Bubo sumatranus) di Kampus IPB Dramaga



Slogan “Kampus Biodiversitas” yang di pelopori oleh Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) Fakultas Kehutanan IPB, sepertinya bukan hanya harapan tanpa alasan. Tingkat keanekaragaman yang tinggi tentu merupakan alasan yang cukup kuat untuk membawa IPB menjadi kampus biodiversitas. Sampai saat ini, HIMAKOVA dengan Kelompok Pemerhati di dalamnya telah menginvestarisasi dan mendata 17 jenis mamalia, 90 jenis burung, 70 jenis kupu-kupu, dan 39 jenis herpetofauna (reptil dan amfibi). Data-data tersebut selalu di perbaharui oleh HIMAKOVA, perubahan lebih mudah di lakukan karena masing-masing Kelompok Pemerhati selalu mengagendakan untuk mengadakan monitoring kampus. Begitu pun dengan kelompok pemerhati burung (KPB) “Perenjak”.
Penelitian tentang keanekaragaman jenis burung di Kampus IPB Dramaga telah di mulai sejak tahun 1982. Penelitian pertama kali dimulai oleh Putra (1982) dengan jumlah 42 jenis burung, selanjutnya Mulyani (1985) 41 jenis burung, Van Balen et all(1986) 68 jenis burung, Hernowa et all (1991) 68 jenis burung, dan Kurnia (2003) dengan 72 jenis burung. Pada tahun 2011, kelompok pemerhati burung “Perenjak” HIMAKOVA yang bekerjasama dengan para dosen, mahasiswa, dan para peneliti IPB telah  resmi menerbitkan “Buku Panduan Lapang Burung Kampus IPB Dramaga” dengan total 85 jenis burung. Umumnya burung-burung tersebut adalah penetap, sebagian lagi merupakan burung pengunjung (visitor) dan sisanya merupakan burung migran (Mustari , Mulyani 2011).
Sejak buku itu diterbitkan, KPB “Perenjak” terus melakukan monitoring dan mencatat beberapa jenis burung baru. Tahun lalu tercatat dua jenis baru ditemukan diantaranya jenis Punai pengantin (Treron griseicauda), Betet Loreng (Lanius tigrinus), Sikep madu asia (Pernis ptilorhynchus) dan Kadalan birah (Phaenicophaeus curvirostris) (baca juga Republika Online, Punai pengantin tercatat huni kampus IPB dan Akhirnya terbukti keberadaan spesies ini di IPB). Awal tahun ini KPB “Perenjak” kembali mendapat kejutan dengan ditemukannya jenis burung hantu yakni Beluk Jampuk (Bubo sumatranus). Anggota KPB Perenjak, Fahmi Muhammad Ghafariansyah yang merupakan salah satu anggota KPB Perenjak mengatakan, awalnya KPB Perenjak mengira spesies ini adalah jenis serak jawa (Tyto alba) juvenil, tetapi setelah melakukan identifikasi akhirnya semua anggota KPB meyakini bahwa spesies itu adalah Beluk jampuk.

“Burung itu saya temukan secara tidak sengaja sedang bertengger diatas pohon karet ketika saya sedang pengamatan, ujar Fahmi Muhammad Ghafariansyah yang pertama kali menemukan jenis tersebut.

 
Foto by Fahmi Muhammad Ghafariansyah

Foto by Haris Munandar (juvenile)

Foto by Haris Munandar (Dewasa)

Sebenarnya Beluk Jampuk ditemukan sekitar awal bulan maret 2014 oleh Fahmi Muhammad Ghafariansyah, untuk membuktikan bahwa burung tersebut bukan burung lepasan dan memastikan keberadaannya di kampus, KPB Perenjak mulai melakukan monitoring secara rutin terhadap Beluk jampuk di sekitar tempat pertama kali jenis ini ditemukan. Dua bulan kemudian, di pertengahan bulan Mei pencarian anggota KPB Perenjak menemukan titik terang. Tanggal 14 Mei 2014 Beluk Jampuk kembali ditemukan tidak jauh dari tempat awal ditemukan, yang lebih mengejutkan KPB Perenjak menemukan tiga individu secara bersamaan, dua indukan (dewasa) dan satu juvenile. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa Beluk Jampuk adalah jenis penetap Kampus IPB Dramaga sekaligus menjadi New Record bagi catatan KPB Perenjak.

Beluk Jampuk atau Hingkik memiliki nama latin Bubo sumatranus dan dalam bahasa inggris disebut Barred Eagle Owl atau Malay Eagle Owl. Spesies ini merupakan salah satu jenis burung hantu yang dapat ditemukan di Indonesia. Burung Hantu merupakan jenis burung pemakan daging (karnivora) dengan paruh yang bengkok dan tajam  serta sepasang kaki yang cekatan dan kuat mencengkram seperti burung elang. Jenis-jenis burung hantu memiliki sepasang mata yang besar  menghadap kedepan dengan susunan bulu di wajah yang membentuk lingkaran dan  beraktifitas di malam hari. Makanan burung hantu pada umumnya adalah serangga dan binatang pengerat seperti tikus. Sebagai top predator keberadaan burung hantu dapat membantu petani karena dalam mengendalikan hama tikus.

Beluk Jampuk memiliki tubuh yang tergolong besar dengan panjang sekitar 45 cm. Ciri khas Hingkik adalah memiliki bulu berwarna abu-abu tua dengan berkas telinga horizontal mencolok, tubuh bagian atas berwarna coklat kehitaman, seluruhnya bergaris kuning tua halus, dan memiliki alis berwarna putih. Tubuh bagian bawahnya berwarna abu-abu keputihan bergaris hitam tebal. Ketika terbang burung ini mengeluarkan suara keras “ wuuh” atau “hua-wuh” dan diakhiri erangan yang dalam. Habitat beluk jampuk adalah hutan tropis dan sub tropis dataran rendah dengan ketinggian hingga 1000 m di atas permukaan laut (MacKinnon 1998).
Seperti kebanyakan jenis burung hantu lainnya, Beluk jampuk memakan serangga besar, mamalia kecil, reptil, ikan-ikan kecil dan burung-burung kecil. Beluk jampuk adalah binatang nokturnal dan biasanya berkeliaran sendirian atau berpasangan. Selain morfologi yang khas, setidaknya ada dua hal yang unik dari Hingkik/beluk jampuk yakni kebiasaan mereka  yang senang mandi di kolam atau sungai dan fakta bahwa beluk jampuk memiliki satu pasangan seumur hidup. Dan mereka akan kembali ke sarang yang sama dari tahun ke tahun ketika musim kawin tiba. Di Indonesia penyebaran Hingkik/Beluk Jampuk dapat ditemukan di wilayah Kalimantan, Sumatera, Bangka, Jawa dan Bali.
Keanekaragaman jenis burung yang tinggi di Kampus IPB Dramaga tidak terlepas dari keanekaragaman tipe habitatnya. Berbagai tipe habitat satwaliar khusunya burung tersebar di kampus ini, diantaranya hutan cikabayan, semak berumput cikabayan, habitat riparian, perumahan dosen, hutan Al-hurriyah, tegakan karet, arboretum, taman rektorat, danau LSI, dan gedung perkuliahan. Penemuan jenis Beluk jampuk (Bubo sumatranus) ini juga menambah daftar jenis burung hantu yang ada di Kampus IPB, dimana sebelumnya juga tercatat jenis burung hantu yang menghuni kampus IPB yakni Kukuk Selaputo (Strix seloputo), Celepuk Reban (Otus lempiji) dan Serak Jawa (Tyto alba) (baca juga http://himakovaipb.blogspot.com/2014/03/serak-jawa-tyto-alba-sangpemburu.html).

Hal ini membukitikan bahwa habitat kampus IPB merupakan habitat yang disukai banyak jenis burung. Penemuan jenis-jenis tersebut tentu bukan akhir dari cerita burung di kampus ini, karena burung memiliki dinamika yang kompleks yang tentunya tidak terlepas dari kehidupan manusia. Harapannya akan lebih banyak orang yang mencintai dan peduli terhadap keberlanjutan keanekaragaman hayati yang sekarang “masih bisa” kita miliki.


Lepi Asmala Dewi Anggota KPB “Perenjak” Himakova IPB

7 komentar:

  1. Habitat kampus IPB Dramaga ternyata masih mampu mendukung berbagai keanekaragaman hayati, meskipun sudah banyak pembangunan.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. assalamualaikum we.wb,saya. IBU ENDANG WULANDARI Dri jawah timur tapi sekarang merantahu di teiwan bekerja sebagai pembantu ingin mengucapakan banyak terimah kasih kepada KI KANJENG DEMANG atas bantuan AKI. Kini impian saya selama ini semaunya sudah tercapai kenyataan dan berkat bantuan KI KANJENG DEMANG pula yang telah memberikan Angka gaib hasil ritual beliau kepada saya yaitu 4D. Dan alhamdulillah berasil tembus. Dan rencana saya ingin Mau pulang ke kampung kumpul kembali degang keluarga saya sekali lagi makasih yaa KI karna waktu itu saya cuma bermodalkan uang cuma 400rb Dan akhirnya saya menang. berkat angka gaib hasil ritual AKI KANJENG DEMANG saya sudah buka usaha warung makan Dan suami saya peternakan. Kini kehidupan keluarga saya jauh lebih baik dari sebelumnya, Dan saya ATAS Nama IBU ENDANG WULANDARI sekali lagi saya betul betul sagat berterima kasih kepada AKI Dan saya minta Maaf kalau Nama AKI saya tulis di internet itu semua saya lakukan karna saya Mau ada orang yang meminta bantuan Sama AKI agar seperti saya sudah sukses. Dan membatu orang orang yang kesusaan. bagi anda yang ingin seperti saya silahkan HUB / KI KANJENG DEMANG di Nomor INI: 081 / 234 / 666 / 039 / insya allah AKI akan membantu anda karna ramalan KI KANJENG DEMANG memiliki ramalan GAIB yang bagus Dan dijamain tembus

      Hapus
  2. Keren banget ada Bubo sumatranua,kalo ada pengamatan boleh ikut bergabung mas/mbak? Saya dari cluster wil ornith himpro satwaliar fkh ipb.
    Suwardi hidayat

    BalasHapus
  3. Kalau ada pengamatan Bubo Sumatranus bolehkah saya bergabung mas/mbak? Saya falconer dari Cikarang.

    Ade Sabala
    ase.indra.sabala@gmail.com

    BalasHapus
  4. Untuk alasan keamanan sebaiknya lokasi dirahasiakan yaa

    BalasHapus
  5. salut sekali dengan dedikasinya, semoga kampus ipb semakin hijau dan keanekaragaman hayatinya semakin tinggi, semoga bisa terbentuk keselarasan antara pembangunan dan upaya konservasi hayatinya... Aamiin

    BalasHapus

Copyright © HIMAKOVA | Designed With By Blogger Templates
Scroll To Top