Minggu, 16 Mei 2010


Orang Utan


Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mamalia
Ordo: Primata
Famili: Hominidae
Upafamili: Ponginae
Elliot, 1912
Lacépède, 1799
Genus: Pongo
Orang utan (atau orangutan, nama lainnya adalah mawas) adalah sejenis kera besar dengan lengan panjang dan berbulu kemerahan atau cokelat, yang hidup di hutan tropis Indonesia dan Malaysia terutama di pulau Kalimantan dan Sumatra.

Istilah orang utan diambil dari bahasa Indonesia dan/atau bahasa Melayu, yang berarti manusia (orang) hutan.
Mereka memiliki tubuh yang gemuk dan besar, berleher besar, lengan yang panjang dan kuat, kaki yang pendek dan tertunduk, dan tidak mempunyai ekor.

Orang utan berukuran 1-1,4 m untuk jantan, yaitu kira-kira 2/3 kali ukuran seekor gorila. Tubuh orang utan diselimuti rambut merah kecoklatan. Mereka mempunyai kepala yang besar dengan posisi mulut yang tinggi. Orang utan jantan memiliki pelipis yang gemuk. Mereka mempunyai indera yang sama seperti manusia, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, dan peraba.

Telapak tangan mereka mempunyai 4 jari-jari panjang ditambah 1 ibu jari. Telapak kaki mereka juga memiliki susunan jari-jemari yang sangat mirip dengan manusia.

Klasifikasi

Orang utan termasuk hewan vertebrata, yang berarti bahwa mereka memiliki tulang belakang. Orang utan juga termasuk hewan mamalia dan primata.

Orang utan saat ini merupakan binatang langka, karena manusia terus-menerus merusak habitat mereka dan seringkali pula menjual bayi-bayi mereka secara ilegal untuk dijadikan hewan peliharaan. Diperkirakan populasi orang utan di seluruh dunia baru-baru ini hanya berjumlah 100.000 ekor. Saat ini telah dikembangkan suaka margasatwa untuk melestarikan populasi mereka di Indonesia dan Malaysia.



Lokasi dan habitat

Orang utan ditemukan di wilayah hutan hujan tropis Asia Tenggara, yaitu di pulau Borneo dan Sumatra di wilayah bagian negara Indonesia dan Malaysia. Mereka biasa tinggal di pepohonan lebat dan membuat sarangnya dari dedaunan. Orangutan dapat hidup pada berbagai tipe hutan, mulai dari hutan dipterokarpus perbukitan dan dataran rendah, daerah aliran sungai, hutan rawa air tawar, rawa gambut, tanah kering di atas rawa bakau dan nipah, sampai ke hutan pegunungan. Di Borneo orangutan dapat ditemukan pada ketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl), sedangkan kerabatnya di Sumatera dilaporkan dapat mencapai hutan pegunungan pada 1.000 m dpl.

Orangutan Sumatera (Pongo abelii lesson) merupakan salah satu hewan endemis yang hanya ada di Sumatera. Orangutan di Sumatera hanya menempati bagian utara pulau itu, mulai dari Timang Gajah, Aceh Tengah sampai Sitinjak di Tapanuli Selatan.Keberadaan hewan mamalia ini dilindungi Undang-Undang 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan digolongkan sebagai 'Critically Endangered' oleh IUCN. Di Sumatera, salah satu populasi orangutan terdapat di daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, Sumatera Utara. Populasi orangutan liar di Sumatera diperkirakan sejumlah 7.300. Di DAS Batang Toru 380 ekor dengan kepadatan pupulasi sekitar 0,47 sampai 0,82 ekor per kilometer persegi. Populasi orangutan Sumatera (Pongo abelii lesson) kini diperkirakan 7.500 ekor. Padahal pada era 1990 an, diperkirakan 200.000 ekor. Populasi mereka terdapat di 13 daerah terpisah secara geografis. Kondisi ini menyebabkan kelangsungan hidup mereka semakin terancam punah. Saat ini hampir semua orangutan sumatera hanya ditemukan di Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Aceh, dengan Danau Toba sebagai batas paling selatan sebarannya. Hanya 2 populasi yang relatif kecil berada di sebelah barat daya danau, yaitu Sarulla Timur dan hutan-hutan di Batang Toru Barat. Populasi orangutan terbesar di Sumatera dijumpai di Leuser Barat (2.508 individu) dan Leuser Timur (1.052 individu), serta Rawa Singkil (1.500 individu). Populasi lain yang diperkirakan potensial untuk bertahan dalam jangka panjang (viable) terdapat di Batang Toru,Sumatera Utara, dengan ukuran sekitar 400 individu.

Orangutan di Borneo yang dikategorikan sebagai 'endangered' oleh IUCN terbagi dalam tiga subspesies: Orangutan di Borneo dikelompokkan ke dalam tiga anak jenis, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang berada di bagian utara Sungai Kapuas sampai ke timur laut Sarawak; Pongo pygmaeus wurmbii yang ditemukan mulai dari selatan Sungai Kapuas hingga bagian barat Sungai Barito; dan Pongo pygmaeus morio, diperkirakan secara total populasi liarnya di alam hanya 45.000 hingga 69.000. Di Borneo, orangutan dapat ditemukan di Sabah, Sarawak, dan hampir seluruh hutan dataran rendah Kalimantan, kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam.

Makanan

Meskipun orang utan termasuk hewan omnivora, sebagian besar dari mereka hanya memakan tumbuhan. Makanan kesukaan orang utan adalah buah-buahan. Makanan lainnya a.l.:

* Daun-daunan
* Biji-bijian
* Kulit kayu
* Tunas tanaman (yang lunak)
* Bunga-bungaan

Selain itu mereka juga memakan serangga dan hewan-hewan kecil lainnya (seperti burung dan mamalia kecil).

Orang utan bahkan tidak perlu meninggalkan pohon mereka jika ingin minum. Mereka biasanya meminum air yang telah terkumpul di lubang-lubang di antara cabang pohon.

Predator

Predator terbesar orang utan dewasa ini adalah manusia. Manusia (dalam bentuk lembaga/perusahaan tertentu) cenderung berniat untuk membabat habis/menggunduli habitat mereka (hutan hujan tropis). Beberapa orang lain bahkan memperjual-belikan mereka sebagai binatang peliharaan atau diselundupkan ke negara lain untuk menghasilkan uang dalam jumlah besar. Hal seperti ini membuat populasi orang utan terancam punah.

Orang utan betina biasanya melahirkan pada usia 7-10 tahun dengan lama kandungan berkisar antara 8,5 hingga 9 bulan; hampir sama dengan manusia. Jumlah bayi yang dilahirkan seorang betina biasanya hanya satu. Bayi orang utan dapat hidup mandiri pada usia 6-7 tahun.

Kasuari Gelambir-ganda




Klasifikasi ilmiah
  • Kerajaan: Animalia
  • Filum: Chordata
  • Kelas: Aves
  • Ordo: Struthioniformes
  • Famili: Casuariidae
  • Genus: Casuarius
  • Spesies: C. casuarius

Kasuari Gelambir-ganda atau dalam nama ilmiahnya Casuarius casuarius adalah salah satu burung dari tiga spesies Kasuari. Burung dewasa berukuran besar, dengan ketinggian mencapai 170cm, dan memiliki bulu berwarna hitam yang keras dan kaku. Kulit lehernya berwarna biru dan terdapat dua buah gelambir berwarna merah pada lehernya. Di atas kepalanya terdapat tanduk yang tinggi berwarna kecoklatan. Burung betina serupa dengan burung jantan, dan biasanya berukuran lebih besar dan lebih dominan.

Burung Kasuari mempunyai kaki yang besar dan kuat dengan tiga buah jari pada masing-masing kakinya. Jari-jari kaki burung ini sangat berbahaya karena diperlengkapi dengan cakar yang sangat tajam. Seperti umumnya spesies burung-burung yang berukuran besar, burung Kasuari Gelambir-ganda tidak dapat terbang.

Populasi Kasuari Gelambir-ganda tersebar di hutan dataran rendah di Australia, pulau Irian dan pulau Seram di provinsi Maluku. Spesies ini merupakan satu-satunya burung di marga Casuarius yang terdapat di benua Australia. Pakan burung Kasuari Gelambir-ganda terdiri dari aneka buah-buahan yang terjatuh di dasar hutan.

Burung Kasuari biasanya hidup sendiri, berpasangan hanya pada waktu musim berbiak. Anak burung dierami dan dibesarkan oleh burung jantan.

Penangkapan liar dan hilangnya habitat hutan mengancam keberadaan spesies ini. Kasuari Gelambir-ganda dievaluasikan sebagai rentan di dalam IUCN Red List.

Sanca bodo




Klasifikasi ilmiah
  • Kerajaan: Animalia
  • Filum: Chordata
  • Kelas: Reptilia
  • Ordo: Squamata
  • Upaordo: Serpentes
  • Famili: Pythonidae
  • Genus: Python
  • Spesies: P. molurus

Sanca bodo (Python molurus) adalah sejenis ular anggota keluarga (familia) ular besar (Boidae) dan termasuk anaksuku ular sanca. Ada dua anakjenis yang diakui: Python molurus molurus yang dijumpai di anakbenua India dan P. m. bivittatus Kuhl (1920) yang hidup secara alami di Indocina, Jawa, Bali, Sumbawa, dan sebagian Sulawesi. Anakjenis bivittatus ada yang mencapai panjang lebih dari lima meter. Rentang habitat mencakup sebagian besar daerah tropis dan subtropis. Wilayah jelajahnya mencakup berbagai habitat hutan namun selalu tidak terlalu jauh dari air dan kadang-kadang, daerah pemukiman manusia. Dalam beberapa dekade terakhir, ular ini juga menjadi penghuni liar hutan di Florida, Amerika Serikat, sebagai hewan invasif akibat para pemeliharanya melepaskan hewan ini begitu saja ke alam liar.

Ular ini memangsa berbagai vertebrata, namun paling besar adalah babi atau rusa tutul. Sebagaimana jenis sanca lainnya, sanca bodo bertelur dan betinanya "mengerami". Akibat perburuan dan perusakan habitat, sanca bodo oleh IUCN dimasukkan sebagai spesies "hampir terancam".

Ajak



Klasifikasi ilmiah
  • Kerajaan: Hewan
  • Filum: Chordata
  • Kelas: Mamalia
  • Ordo: Karnivora
  • Famili: Canidae
  • Upafamili: Caninae
  • Genus: Cuon
    Hodgson, 1838
  • Spesies: C. alpinus

Ajak atau ajag (Cuon alpinus) adalah anjing hutan yang hidup di Asia, terutama di wilayah selatan dan timur. Ajak tidak sama dengan serigala.

Ajak merupakan anjing asli Nusantara, terdapat di pulau Sumatra dan Jawa, mendiami terutama kawasa pegunungan dan hutan. Anjing kampung dan yang lainnya yang biasa dijadikan peliharaan di Indonesia, sebenarnya merupakan anjing impor yang berasal dari daerah lain. Ajak berperawakan sedang, berwarna coklat kemerahan. Di bagian bawah dagu, leher, hingga ujung perut berwarna putih, sedangkan ekornya tebal kehitaman.

Ajak biasa hidup bergerombol dalam lima hingga dua belas ekor, tergantung lingkungannya. Namun, pada keadaan tertentu, ajak dapat hidup soliter (menyendiri), seperti yang ditemukan di Taman Nasional Gunung Leuser.

Mengenal Satwa langka di Indonesia

Read More

Sabtu, 15 Mei 2010

Fotografi berasal dari kata photo yang artinya cahaya dan graphis yang artinya lukisan, sehingga definisi fotografi adalah suatu ilmu seni yang menggunakan cahaya untuk melukis. Lukisan yang dihasilkan merupakan cahaya yang dipantulkan oleh suatu objek. Objek fotografi dapat berupa keindahan alam, fenomena alam, serta berbagai komponen biotik dan abiotik. Himakova mempunyai suatu kelompok pemerhati yang salah satunya adalah Fotografi Konservasi (FOKA). Fotografi Konservasi ini merupakan bentuk kegiatan fotografi di bidang konservasi. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan FOKA di dalam Himakova adalah mencari data berupa foto dan video serta mengabadikan kegiatan lapang Himakova.

Pada awalnya, FOKA dirintis oleh Fotografi Gua - KPG pada tahun 1999. Kemudian pada tahun 2001 dibentuklah kelompok Fotografi KSH. Hingga akhirnya nama itu diubah menjadi Fotografi Konservasi. Penggantian nama tersebut dikarenakan konservasi mempunyai arti yang lebih luas yang tidak hanya berada dalam lingkup konservasi sumberdaya hutan saja, tetapi juga mencakup konservasi alam ini.

Kegiatan FOKA meliputi diklat, expo, lomba foto, editing, hunting foto, dan mengikuti kegiatan Himakova lainnya, serta melaksanakan program kerja yang telah disepakati tiap tahunnya. Pengambilan gambar untuk fotografi konservasi ini mencakup berbagai hal di bidang konservasi dan lingkungan. Foto-foto yang didapat biasanya berhubungan dengan hutan, konservasi, lingkungan, pemandangan alam, satwa, etnobiologi masyarakat penduduk asli suatu desa/suku dan dokumentasi kegiatan lapang HImakova. Dalam FOKA tidak hanya sekedar potret-memotret/ syuting-menyuting, tetapi juga setiap hasilnya dievaluasi dan disampaikan pada himakova sebagai laporan. Untuk program kerjanya sendiri seperti expo, pameran foto, dan kegiatan lainnya, hasil foto yang didapat langsung disampaikan pada masyarakat sebagai media informasi pendidikan konservasi agar masyarakat pun dapat menjaga lingkungannya lebih baik. Untuk video itu sendiri dapat juga dibuat suatu film dokumentasi tentang keadaan bumi saat ini untuk dipamerkan pada khalayak ramai. Sehingga foto/video itu sendiri tidak hanya sekedar “pajangan” sebagai dokumentasi saja, tetapi juga sebagai suatu sarana pelestarian lingkungan secara tak langsung.

Fotografi Konservasi

Read More

Kelompok Pemerhati Mamalia Tarsius” atau disingkat KPM “Tarsius” merupakan badan semi otonom berada dibawah Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) didirikan pada tanggal 28 November 2004. Kata Tarsius atau Krabuku ingkat diambil dari jenis primata yang hidupnya nokturnal (aktivitas malam hari), berukuran kecil, berwarna coklat abu-abu pucat atau gelap, dengan bola mata besar Primata ini langka dan merupakan binatang yang khas serta menarik dari nilai estetikanya.

Visi : Mewujudkan mahasiswa konservasi mamalia Indonesia

Misi : Menciptakan sumberdaya manusia konservasi yang memiliki kemampuan dalam hal-hal yang berkaitan dengan mamalia dan memahami aspek sosial yang ditimbulkan serta mewujudkan rasa kepedulian terhadap mamalia yang berwawasan ilmiah.

Lambang KPM ”Tarsius” berbentuk gambar satwa primata dengan tulisan tarsius berwarna merah berpegangan pada batang pohon dan dasar warna kuning dikeliligi lingkaran warna biru dengan tulisan Kelompok Pemerhati Mamalia kemudian Himakova diantara dua buah bintang keseluruhan berwarna putih.

Arti :

Lambang ”Tarsius” menyatakan bahwa KPM bergerak dibidang mamalia.

Warna dasar kuning merupakan pencerahan terhadap mamalia, Lingkaran biru berarti konservasi terhadap mamalia ”Tarsius”.

Sepasang bintang melambangkan bahwa konservasi mamalia merupakan bidang atau keahlian yang dilakukan secara bersama, dinamis berkesinambungan, serta berkelanjutan.

Dalam setiap kepengurusan, KPM telah melakukan berbagai kegiatan, baik kegiatan yang dibawa langsung oleh HIMAKOVA seperti Studi Konservasi Lingkungan baik di TNWK, TN Babul, TNBBR, serta kegiatan Eksplorasi Flora Fauna, di HPGW, CA Simpang, CA Rawa danau. Selain itu, KPM juga melakukan berbagai program kerja seperti survey perdagangan dan penyakit mamalia, monitoring mamalia di Kampus IPB dan survey keanekaragaman mamalia di Bodogol TNGP.

Kelompok Pemerhati Mamalia "Tarsius"

Read More

Kelompok Pemerhati Kupu kupu “SARPEDON” berdiri pada tahun 1992. Sarpedon merupakan salah satu jenis kupu-kupu dengan nama latin Graphium sarpedon.

Visi dan Misi

Visi : KPK Sarpedon sebagai trend setter dalam pengembangan IPTEKS dan SDM di bidang Konservasi Kupu-kupu

Misi :

  1. Penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan di bidang konservasi kupu-kupu
  2. Pengembangan penelitian berorientasi pada pengembangan IPTEKS dan pemecahan masalah konservasi kupu-kupu
  3. Fasilitasi implementasi IPTEKS konservasi kupu-kupu secara berkelanjutan

Keanggotaan

Kelompok Pemerhati Kupu kupu “SARPEDON” beranggotakan mahasiswa departemen konservasi sumberdaya hutan ekowisata (DKSHE) yang tergabung kedalam himpunan mahasiswa konservasi sumberdaya hutan ekowisata (HIMAKOVA)

Kegiatan

· Pelatihan dasar dan upgrading pemerhati kupu-kupu

· Latihan menangkarkan kupu-kupu

· Pengenalan Kupu-kupu ke sekolah-sekolah dasar

· Studi penangkaran ke lokasi penangkaran kupu-kupu

· Kunjungan ke museum serangga

· Raflesia (EKSPLORASI FAUNA FLORA DAN EKOWISATA INDONESIA)

· Surili (STUDI KONSERVASI DAN LINGKUNGAN)

Kelompok Pemerhati Kupu-kupu "Sarpedon"

Read More

Selasa, 11 Mei 2010

Kelompok Pemerhati Herpetofauna "Phyton"

PENDAHULUAN

Kelompok Pemerhati Herpetofauna (KPH) merupakan salah satu kelompok pemerhati yang ada di HIMAKOVA (Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata). Sebagai salah satu Himpunan Profesi yang bergerak dibidang lingkungan, HIMAKOVA turut andil dalam identifikasi jenis flora dan fauna baik yang ada di Kampus IPB Darmaga maupun diluar lingkungan Kampus agar dapat diketahui dengan jelas spesies yang masih ada maupun yang terancam punah. Hasil identifikasi yang dilakukan nantinya akan menjadi database yang akan diperlukan sebagai sumber informasi, penunjang penelitian serta pengelolaan lebih lanjut.

Dalam kiprahnya selama ini, banyak kegiatan KPH yang telah dilakukan seperti observasi Kampus maupun luar Kampus. Hasil Observasi nantinya akan diinformasikan kepada masyarakat seperti seminar, pemberian pamflet, warta herpetofauna, webblog atau yang lainnya untuk memperkenalkan Herpetofauna kepada dunia luar dan menambah wawasan tentang dunia Herpetofauna.

Selain Observasi, banyak hal yang dapat dilakukan untuk mskelestarikan Herpetofauna sehingga diperlukan banyak sumberdaya manusia secara kualitas dan kuantitas. Sumberdaya manusia dapat dilakukan dengan pengrekrutan/penerimaan anggota baru. Semakin banyak anggota yang masuk maka semakin banyak ide cemerlang yang akan tercipta guna menyebarluaan makna konservasi secara umum dan konservasi Herpetofauna secara khusus. Dalam mengembangkan Konservasi Herpetofauna, perlu adanya pengenalan jenis Herpetofauna dengan baik agar Manajemen Pengelolaan dapat ditentukan dengan baik pula.

SEJARAH KPH

Kelompok Pemerhati Herpetofauna (KPH) ini awalnya bernama Kelompok Pemerhati Reptil (KPR) yang didirikan oleh angkatan 27, kemudian sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan tentang satwa vertebrata dan penelitian mengenai kelompok satwa amfibi di Indonesia, maka pada tahun 1999 di angkatan 34 KPR berganti nama menjadi Kelompok Pemerhati Reptil dan Amfibi (KPRA) dengan nama yang tetap sama “Python”. Dengan mempertimbangkan bahwa reptil dan amfibi adalah satu kesatuan dalam ilmu pengetahuan yang terangkum dalam ilmu “Herpetology” maka mulai tahun 2004 di angkatan 38 nama KPRA berubah menjadi Kelompok Pemerhati Herpetofauna “Python”.

Visi

KPH sebagai sarana untuk mengkaji ilmu mengenai reptil dan amfibi serta dapat disebarluaskan kepada masyarakat dan membantu mengkonservasi lingkungan melalui herpetology.

Misi

Ăž Mempelajari secara biologi dan ekologi mengenai reptil dan amfibi

Ăž Melatih semua anggota agar dapat mengidentifikasi serta memahami reptil dan amfibi sebagai komponen pelestarian lingkungan.

Ăž Menginformasikan hasil kegiatan, penelitian, dan sebagainya kepada anggota HIMAKOVA, Civitas IPB, dan Masyarakat Umum.




Lambang atau logo

Lambang atau logo KPH adalah Segitiga berwarna hijau yang di kiri bertuliskan KELOMPOK PEMERHATI, di kanan HERPETOFAUNA dan di bawahnya HIMAKOVA dan semua tulisan berwarna merah. Di dalam segitiga terdapat gambar ular python dan Orange-sided leaf frog, kemudian di atas gambar tersebut terdapat tulisan KPH “PYTHON’’

Arti lambang atau Logo

Ăž Segitiga berwarna hijau melambangkan 3 konsep konservasi yaitu Perlindungan, Pengawetan dan Pemanfaatan serta melambangkan hutan sebagai salah satu habitat Herpetofauna.

Ăž Tulisan KELOMPOK PEMERHATI HERPEROFAUNA berwarna merah melambangkan semua anggota harus berani.

Ăž Tulisan KPH “Python” sebagai publikasi nama KP

Ăž Ular sanca hijau (python) merupakan salah satu contoh jenis reptil Indonesia yang dilindungi keberadaannya.

Ăž Orange-sided leaf frog (Phyllomedusa hypochondrialis) yang berasal dari luar negeri menggambarkan bahwa kelompok ini juga memperhatikan jenis yang berada di luar Indonesia.

PROFIL KELOMPOK PEMERHATI HERPETOFAUNA

Read More

Kelompok Pemerhati Goa "HIRA"

Bentuk Organisasi : Kelompok Pemerhati (HIMAKOVA)

Tanggal Berdiri : 12 September 1994

Sifat Organisasi : Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Tujuan Organisasi :

  • Melatih mental dan kepribadian anggota
  • Menginventarisasi sumberdaya dan potensi gua-gua di Indonesia
  • Membina hubungan dan kerjasama yang positif baik secara internal maupun eksternal.
  • Mengembangkan usaha-usaha yang positif dengan didasari oleh niat dan tanggung jawab bagi kemajuan organisasi dan Himakova Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Struktur KPG

  • Pembina
  • Ketua Himakova
  • Ketua KPG
  • Sekretaris
  • Bendahara
  • Biro : Logstran, Infokom & kewirus
  • Divisi : Pemetaan, Inventarisasi flora fauna, Kawasan larst & adventure

Kegiatan

  1. Pemetaan Gua: Kegiatan ini bertujuan untuk memetakan lorong-lorong gua serta letak ornamen-ornamen gua, flora dan fauna gua, dan percabangan dalam gua.
  2. Inventarisasi Flora dan Fauna Gua: Kegiatan ini bertujuan untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi flora dan fauna yang terdapat dalam gua serta letaknya dalam gua.
  3. Kawasan Karst: Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di sekitar gua serta nilai gua dan kawasan karst bagi masyarakat di sekitar gua.
  4. Adventure: Kegiatan ini merupakan gabungan antara fisik, teknik, seni dan keterampilan dalam penelusuran gua, baik gua vertikal maupun gua horizontal serta menikmati keindahan ornamen gua.

KPG in Action

  1. Ekspedisi Gua Siluman Sukabumi tahun 1994
  2. Peserta Lokakarya Kawasan Karst di Yogya karta tahun 1997
  3. Ekspedisi Gua Cipeureuy Sukabumi tahun 1998
  4. Ekspedisi Gua Gudawang Cigudeg tahun 1999
  5. Ekspedisi Gua Sarabadak Purwakerto tahun 2000
  6. Ekspedisi Gua Kiskendo Kendal tahun 2000
  7. Pelatihan Teknik Eksplorasi Gua dan Lingkungan Karst oleh Hikespi dan pulit Geologi di Bandung dan Cisarua tahun 2001
  8. Ekspedisi Gua Simasigit dan Sipahang Cigudeg tahun 2001
  9. Ekspedisi Gua Sigajah Ciampea tahun 2002
  10. Ekspedisi Gua Gimbar, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan tahun 2004
  11. Penelusuran Gua Putih, Gunung Walat Sukabumi tahun 2004
  12. Wisata Gua Gudawang, Bogor tahun 2005
  13. Eksplorasi Gua Diang Kaung, Kalimantan Barat tahun 2005
  14. Ekspedisi Gua Sigaraan, kompleks Gudawang tahun 2006.
  15. Pendidikan dan Pelatihan Dasar anggota baru tiap tahunnya
  16. Penelusuran Gua Putih, Gunung Walat Sukabumi tahun 2007
  17. Eksplorasi Gua Batu, Mimpi, Pattunuang, Leang lonrong & Salukkang kalang dalam SURILI 2007 di TN Bantimurung-Bulusaraung Sulawesi Selatan tahun 2007
  18. Ekspedisi Gua Cibulan, kompleks Gudawang tahun 2008
  19. Peserta Scientific Karst I di Yogyakarta tahun 2008
  20. Ekspedisi Gua Buniayu, Sukabumi tahun 2008
  21. Eksplorasi Gua Kelasi, Zona Penyangga TN Bukit Baka-raya Kalimantan Barat tahun 2008
  22. Ekspedisi Gua Cikarae, Kab.Tajur tahun 2008
  23. Diskusi dan Sharing bersama dr.R.K.T Ko ahli kawasan karst tahun 2008
  24. eksplorasi Study Konservasi Lingkungan TN Manupeu Tanadaru
Cooming soon ; Eksplorasi Tudy Konservasi Lingkungan di TN SEBANGAU dan EXPO Cave Painting

Read More


KPE adalah salah satu kelompok pemerhati yang ada di HIMAKOVA, kelompok ini terfokus pada bidang ekowisata. Dimana pada saat ini sedang panas – panasnya dibicarakan global warming. Dimana persepsi semua orang terfokus pada hal itu, yang menjadi sasaran adalah hutan. Kita tahu bahwa dari hutan kita bisa mendapatkan kayu. Selain kayu kiat bisa mendapatkan hasil lain sebab hasil hutan ada yang kayu dan non kayu. Kelompok ini adalah kelompok orang – orang yang sangat perhatian dan antusias terhadap fenomna ini. Selain kayu maka hasil hutan non kayu yang bisa didapatkan adalah ekowisata. Manfaat ekowisata bagi kita sangat besar sekali baik bagi pengelola, masyarakat sekitar bahkan bagi kehidupan kita. Jadi telah jelas bahwa peranan ekowisata dalam hal hasil hutan non kayu sangat besar pengaruhnya. Untuk kpe ini diberi nama TAPAK sebab bisa menjelajah ke semua alam.

Susunan pengurus KPE 2009/2010

Ketua : Adam Febriyansyah Gucci

Wakil :Ucok

Sekretaris :Dewi Puspitasari

Amanah anggota

  1. Pelatihan pemetaan
  2. Prinsip dasar
  3. Pulang kampong
  4. Pemandu wisata
  5. Wisata bahari
  6. Pemetaan kampus
  7. Paket wisata
  8. Wisata pendidikani.

Kegiatan yang telah dilaksanakan

  1. penerimaan anggota baru
  2. pelatihan pemetaan di jurug pangeran, gunung bunder
  3. penebusan sleyer dan pelantikan anggota baru di jurug pangeran
  4. interpretasi Gunung Walat
  5. Membuat program Interpretasi TN Manupeu Tanadaru
  6. turut Serta dalam Kampus Edutourism IPB
  7. dlll

Kegiatan yang aakan datang

  1. pelatihan pemandu wisata
  2. wisata bahari
  3. dan lain - lain
  4. pembuatan Program interpretasi TN Sebangau, KalTeng

PROFIL KPE

Read More

Kelompok Pemerhati Flora “Raflesia”

adalah salah satu kelompok pemerhati dalam HIMAKOVA. KPF berdiri pada tahun 1996. Kinin KPF terbagi menjadi 3 divisi, yaitu : Divisi Tumbuhan Obat, Divisi Tumbuhan Langka, dan Divisi Tumbuhan Hias. Sebagaimana KP lain di dalam HIMAKOVA, KPF juga memiliki program-program kerja yang menjadi tujuan selama 1 tahun kepengurusan. Pada kepengurusan tahun ini (2009/2010), program-program kerja KPF antara lain:

  • Mengikuti RAFLESIA (Eksplorasi Flora, Fauna, dan Ekowisata Indonesia);
  • Mengikuti SURILI (Studi Konservasi Lingkungan);
  • Inventarisasi flora kampus sebagai bahan pembuatan field guide flora kampus IPB;
  • Pengelolaan kebun tumbuhan obat;
  • Pelatihan-pelatihan dan seminar;
  • Dan lain-lain.

Arti lambang:

  1. Tanda segi lima di tengah dan bintang-bintang kecil : manusia dapat mencapai kejayaannya dengan cara saling mendukung dan menghormati serta saling melindungi satu sama lain.
  2. Sketsa dasar (warna merah cerah) : bentuk dari Rafflesia arnoldi R,Br.
  3. Hijau bulat : Keadaan dunia yang selalu tertutup oleh vegetasi yang lestari, dan berarti sebagai kesejahteraan hidup umat manusia di muka bumi yang pro terhadap kelestarian lingkungan.
  4. Garis hitam dan putih ; Berpegang teguh pada kebenaran dan menegakkan hukum secara jelas ( “Hitam katakan hitam, putih katakan putih” ).

Read More


Kelompok Pemerhati Burung (KPB) “Perenjak”

Adalah lembaga semi otonom yang berada dibawah naungan Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) IPB yang berdiri tahun 1990. KPB ‘Perenjak’ didirikan atas latar belakang kesenangan, minat dan bakat mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata yang dulu masih bernama jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan dalam melakukan kegiatan pengamatan burung di alam.

Visi

Menyatukan para mahasiswa pengamat burung dalam upaya konservasi lingkungan khususnya burung dan habitatnya melalui kegiatan pendidikan dan penelitian

Misi

1. Membentuk suatu wadah perkumpulan para pengamat burung.

2. Melakukan kegiatan pendidikan, pelatihan dan penelitian tentang burung dan habitatnya

3. Menjalin hubungan dengan organisasi terkait baik regional, nasional maupun internasional

Lambang KPB Perenjak terdiri atas tulisan KPB Perenjak, burung perenjak jawa (Prinia familiaris), lensa monokuler, serta tulisan HIMAKOVA.

Lambang KPB Perenjak mencerminkan :

1. Tulisan KPB Perenjak dan HIMAKOVA mencerminkan nama organisasi

2. Gambar burung perenjak mencerminkan bahwa organisasi ini merupakan organisasi yang kecil tetapi aktif dan suaranya keras dan didengar.

3. Gambar lensa monokuler mencerminkan bahwa kami merupakan kelompok pemerhati burung.

Kegiatan yang dilakukan seperti:

1. Studi Konservasi Lingkungan (Surili) di TN Bukit Barisan Selatan, TN Way Kambas, TN Betung Kerihun, TN Bantimurung Burlusaraung dan TN Bukit Baka Bukit Raya.

2. Eksplorasi Fauna Flora dan Ekowisata Indonesia (Rafflesia) di Hutan Pendidikan Gunung Walat, CA Gunung Simpang dan CA Rawa Danau.

3. Study Konservasi Lingungan (SURILI) 2009 di TN Manupeu Tana Daru di Nusa Tenggara Timur.

4. Cooming Soon (SURILI) 2010 di TN Sebangau, kalimantan Tengah.

Read More


Seputar HIMAKOVA

HIMAKOVA ( Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan & Ekowisata) adalah sebuah organisasi profesi yang berada di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. HIMAKOVA berdiri pada tanggal 12 September 1985. Pada awal berdirinya organisasi ini, sudah terdapat 5 Kelompok Pemerhati yang terbentuk dan ikut membangun fondasi HIMAKOVA. Hingga tahun ini HIMAKOVA mempunyai 7 Kelompok Pemerhati dan 1 Kelompok Fotografi Konservasi.

Sampai saat ini banyak sekali kegiatan yang dilakukan HIMAKOVA didalam dan diluar kampus, yang berskala kampus, nasional dan international. Salah satu program kerja unggulan HIMAKOVA adalah “SURILI” atau Studi Konservasi Lingkungan. SURILI tahun 2006 di TN Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan ini merupakan SURILI yang keempat kalinya setelah SURILI 2003 di TN Halimun Salak, Jawa Barat, SURILI 2004 di TN Bukit Barisan Selatan, Lampung dan SURILI 2005 di TN Betung Kerihun, Kalimantan Barat, dan SURILI 2006 di TN Way Kambas, Propinsi Lampung. Banyak hasil yang didapatkan dari setiap kegiatan SURILI, terutama data terbaru tentang keanekaragaman hayati setempat. Bahkan, hasil SURILI 2005 di TN Betung Kerihun dapat ditampilkan di forum internasional (Ecotourism Student Summit) di Jepang. Kegiatan SURILI ini menambah hubungan dan kemitraan HIMAKOVA dengan organisasi dan lembaga lain, baik nasional maupun internasional. Diantaranya : WCS (World Conservation Society), TBI (Tropenbos International), IRATA (International Reptile and Amphibian Trade Association), Birld Life International, WWF, BCI, BANK INDONESIA dll.

Visi, Misi, dan Tujuan

Visi : Mewujudkan gerakan konservasi dan pengabdian masyarakat.

Misi : Menciptakan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan dalam mengelola sumberdaya alam secara adil dan lestari.

Tujuan Organisasi :

  1. Mewujudkan persatuan mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
  2. Meningkatkan kemampuan penalaran anggota organisasi dalam bidang kehutanan terutama bidang konservasi
  3. Mengembangkan sikap dan kepribadian mahasiswa di bidang konservasi alam
  4. Melaksanakan pengabdian pada masyarakat, terutama di bidang konservasi sumberdaya alam dan lingkungan
  5. Mengembangkan keprofesian dan kepemimpinan mahasiswa melalui pengadaan dan/atau berpartisipasi aktif pada aktivitas yang bersifat internal maupun eksternal
  6. Menjalin hubungan dengan organisasi lain, baik secara regional, nasional, maupun internasional

Alamat Sekretariat

Tangkaran HIMAKOVA di lingkungan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Kampus IPB Darmaga PO.BOX 168 Bogor 16601

Email : himakova_ipb@yahoo.com

PROFIL HIMAKOVA

Read More

Minggu, 02 Mei 2010

Greenpeace Asia Tenggara menyerukan pembeli minyak kelapa sawit internasional untuk membatalkan kontraknya dengan Sinar Mas, dan bagi Round Table on Sustainable Palm Oil (RSPO) (1) badan industri kelapa sawit untuk mencabut keanggotaan Sinar Mas.

Menurut laporan media (2), pada bulan Agustus 2008, Departemen Kehutanan Indonesia memerintahkan Bupati untuk mencabut ijin bagi 12 perusahaan minyak kelapa sawit - tujuh di antaranya milik Sinar Mas - yang beroperasi di sekitar Taman Nasional Danau Sentarum, karena melanggar peraturan perundang-undangan tentang konservasi dan keanekaragaman hayati Indonesia (3). Namun demikian, Greenpeace Asia Tenggara hari ini mengungkapkan bahwa Sinar Mas terus membuka hutan, tanpa mengindahkan hukum Indonesia dan keutuhan taman nasional. Konsesi Sinar Mas di sekitar Danau Sentarum sebagian besar berhutan, termasuk hutan gambut, dan kerusakannya dapat mengakibatkan memburuknya perubahan iklim.

"Minggu lalu aktivis Greenpeace melakukan aksi langsung untuk mencegah pengapalan minyak kelapa sawit Sinar Mas untuk diekspor ke Eropa. Hal ini kami lakukan karena kami menemukan bukti bahwa Sinar Mas melakukan pengrusakan hutan di seluruh Indonesia; di Papua, di Riau dan di Kalimantan," kata Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara. "Pembeli minyak kelapa sawit harus membatalkan kontrak mereka dengan Sinar Mas kecuali bila mereka menghentikan membuka hutan sebagai bagian dari perluasan perkebunan kelapa sawit mereka. Besok, industri kelapa sawit dunia akan bertemu di Bali dalam pertemuan tahunan Round Table on Sustainable Palm Oil keenam. Mereka harus menghentikan anggota mereka, seperti Sinar Mas, yang terus menghancurkan hutan dan lahan gambut, atau mengeluarkan mereka dari keanggotaan RSPO," kata Bustar.

Danau Sentarum, salah satu lahan basah Asia Tenggara terbesar, terletak di hulu Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Taman nasional ini memiliki luas wilayah 132,000 hektar, yang meliputi danau dan lahan basah serta hutan di sekitarnya. Taman nasional ini telah ditunjuk sebagai situs Ramsar pada tahun 1994. Tempat ini adalah habitat terbesar monyet belanda (Proboscis monkey) di pulau Kalimantan, serta orangutan, dua jenis buaya, macan tutul (Clouded leopard), serta beberapa jenis tanaman endemik dan khas.

Pada tahun 2008, Sinar Mas mengaku sebagai 'No. 1' di Indonesia karena memiliki lahan perkebunan kelapa sawit terbesar dan memiliki rencana perluasan yang agresif. Presentasi internal perusahaan yang diperoleh Greenpeace Asia Tenggara mengindikasikan bahwa perusahaan ini berniat untuk engembangkan sampai 2,8 juta ha kelapa sawit di Papua saja. Sebagian besarnya melibatkan pembukaan hutan yang sebagian besar berada di atas lahan gambut dan membuka hutan-hutan utuh. Sinar Mas memasok minyak kelapa sawit untuk Nestlé, Unilever, Procter & Gamble, Henkel, Pizza Hut, McDonalds, Burger King, Danone, Aarhus Karlshamn, Cargill dan banyak lagi.

"Bulan depan pada pertemuan iklim global di Poznan, Polandia, dimana para kepala pemerintahan dunia akan bertemu untuk menyetujui batas-batas emisi gas rumah kaca. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus membuktikan komitmennya untuk mengurangi emisi gas rumahkaca Indonesia dan mencanangkan moratorium (jeda tebang) akan konversi hutan sekarang, demi iklim dunia, keaneraragaman hayati serta masyarakat yang bergantung pada hutan," kata Shailendra Yashwant, Direktur Kampanye Greenpeace Asia Tenggara.

Ancaman Hutan Gambut Indonesia

Read More

Copyright © HIMAKOVA | Designed With By Blogger Templates
Scroll To Top